Indonesia sedang berpacu untuk mencapai status negara maju. Untuk mencapai sdm unggul, program makanan bergizi gratis menjadi salah satu solusi yang diusulkan. Namun, tantangan besar menghadang di depan: kualitas sumber daya manusia (SDM). Stunting, gizi buruk, dan penyakit tidak menular akibat pola makan yang keliru masih menjadi masalah krusial. Dalam kondisi ini, dua program pemerintah, yaitu Makan
Ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Dari nongkrong di kafe sampai bekerja di coffee shop, secangkir kopi kini lebih dari sekadar minuman—ia sudah jadi simbol gaya hidup modern.Namun, di balik tren ini, ada satu hal penting yang perlu disadari: apakah kopi yang kita minum benar-benar halal?Untuk memahami lebih dalam, kita harus menelusuri kopi halal
Bagi sebagian besar masyarakat, alat seperti kuas oles mentega hanyalah perlengkapan dapur biasa. Penting untuk diketahui apakah kuas makanan halal, karena terkadang bulu babi yang haram merupakan bagian yang digunakan dalam pembuatannya. Ia sering digunakan untuk mengoles margarin pada martabak, kue, roti bakar, atau bahkan bumbu sate. Namun, tanpa disadari, alat sederhana ini bisa menjadi titik
Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halalan Thayyiban Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LPH-KHT PP Muhammadiyah) menjalin kerja sama strategis dengan Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat (LKKS PWM Jawa Barat) untuk memperkuat ekosistem halal di lingkungan Muhammadiyah. Sertifikasi Halal LPH-KHT PP Muhammadiyah merupakan bagian penting dalam kerja sama ini. Pertemuan ini dilaksanakan
Produk perikanan selama ini dikenal sebagai bahan makanan yang halal. Namun, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong agar sektor perikanan segera melakukan sertifikasi halal. Sertifikasi halal bukan hanya memastikan kehalalan ikan secara zat, tetapi juga menjamin bahwa seluruh proses produksi hingga distribusi bebas dari kontaminasi bahan haram. Masyarakat
Belakangan media sosial diramaikan oleh kemunculan makanan viral bernama “Tahu Arab” atau Dideh. Sekilas tampilannya mirip tahu berwarna cokelat kehitaman dan disebut-sebut sebagai makanan khas Timur Tengah. Namun setelah ditelusuri, ternyata Dideh bukan berasal dari Timur Tengah sama sekali — melainkan makanan tradisional yang terbuat dari darah sapi atau kerbau yang dibekukan dan kemudian dimasak. Fenomena ini mengingatkan kita untuk tidak mudah